CROSSHIJABERS, stop talking about them! 😶

Views:  121

Resume & reflection (Secang Hangat):

Crosshijabers bagian dari crossdressing. Semacam mix and match fashion yang menggabungkan style cow & cew. Singkatnya, kalau sahabat melihat model laki pake gincu-heels-maskara, atau model cewek pake jas-dasi-pantofel, nah itu crossdressing. Biasa juga diistilahkan: androgini.

Maia Estianty dulu di Ratu memakai konsep androgini yang laki style abis. Tapi dia tetep perempuan.

Millendaru, contoh model androgini yang sampai ter-distract orientasinya. Awalnya cuma memakai pakaian wanita, tapi lama-lama implan payudara.

Lupakan dulu Lucinta.

Gebby Vesta, contoh nyata pria pengena baju wanita yang finally oplas kelamin. Fixed, dia transgender.

Begitulah seni, difahami oleh sebagian pemeluknya: Bebas.. Borderless.

Sebagian yang lain memahami seni sebagai ruang sarat sekat. Tidak bebas. Dan itu bagus.

Sebagian seniman membutuhkan batas seumpama pengendara membutuhkan trotoar atau pagar. Agar tidak bablas nyemplung atau nabrak sini-sana.

Mereka crosshijaber, bahkan terbaru ada pregnant crossdressing (pria penyuka dandanan ala ibu hamil) TIDAK BISA dipastikan sebagai seniman. Mereka punya komunitas dengan follower seribu lebih. Dari postingan mereka, tidak ada show designing baju sama sekali. Jadi tujuan mereka apa dong kalau begitu?

Pertama, Just for fun. Sekedar iseng . Mereka tidak sampai ter-distract orientasinya. Tetap lelaki penyelera wanita.

Mereka serupa tukang prank atau pengidap klepto. Pranker cuma akting. Klepto maniac juga bukannya tidak punya uang. Target mereka adalah berhasil masuk jamaah putri tanpa diketahui. Lalu selfie. Disitu mereka merasa bahagia.

Kedua, disorientasi sexual. Kebablasan. Disini, seniman bisa menjadi ring dimana bola nasehat diarahkan. Bahwa janganlah lelaki pakai outing wanita atau sebaliknya. Jangan pula mendesain baju lelaki dengan ciri wanita atau sebaliknya. Sebab diluar area seni, manusia secara umum bisa pudar kesejatian kamanungsaannya jika mengabaikan pakem soal pakaian. Ajining rogo ono ing busono, betul? Dan mereka di komunitas crosshijaber bisa jadi, memang lekong sekong binti cucok meong. Solusinya tak lain hanyalah hijrah. Taubatan nasuha.

Ketiga, criminal. Crosshijabers bisa jadi kucing garong mengendap sergap dipasar ikan. Mereka tulen dan menikmati momen tertentu seperti merangkul akhwat disebelahnya hingga mengintip aurat ditempat wudhu.

Keempat, setingan. Nah ini..

Kebayang nggak, selepas berita ihwal crosshijabers, apa stigma masyarakat saat melihat hijabers beneran lewat?

Belum waras otak masyarakat yang menstigma hijabers/ niqabers sebagai teroris, sekarang ditambah dengan kecurigaan masyarakat: “.. Itu orang bercadar, isinya perempuan bener apa laki ya..?”

Pasti, yang paling dirugikan adalah saudari-saudari sholehah kita. Jadi canggung, khawatir dan takut.

Yang paling diuntungkan? Ya, siapapun yang nggak suka muslimah berhijab, apalagi bercadar. Entah, ini setingan musuh Islam atau gimana. Yang pasti, berita semacam ini, merugikan saudari, ummi atau kita yang akhwat beneran.

So, stop talking about them.

-red


ReflectionSecang Hangat

Komentar