“MAHLUK HALUS”

Views:  137

(Compressing Secang Hangat)

Berbicaralah dengan suamimu seolah beliau Raja, berbicaralah dengan istrimu seolah beliau Ratu. Maka gubug kita benar-benar menjadi istana.

Terdengar kabar, wanita adalah makhluk halus. Halus perasaannya.

Jadi kepadanya, berbicaralah hati-hati.

Seiringnya, bagaimana berbicara kepada pria?

Tak perlukah berhati-hati?

“Bukankah lelaki bukan makhluk halus?”

Itu bukan pertanyaan. Itu semacam protes; “Bukankah matahari bukan toko?”

Pusing? Ha.. ha…
Tak perlulah.

Matahari bukan toko, tapi semacam benda langit.
Tapi kalau dibilang toko, ya nggak salah juga. Memang ada toko yang judulnya itu.

LELAKI bukan makhluk halus, tapi semacam manusia. Yang punya jiwa, pikiran, pun perasaan. Tapi kalau dibilang mahluk halus, ya nggak salah juga.

Memang ada, tho, dedemitan berjenis pria. Misal: suster ngesot, kuntil anak, sundel bolong. (kayaknya itu geng sosialita demit betina, deh)
Terus demit cowok yang macam apa?

Gak bahas itu.

Yang kita bahas semalam bareng kang Kurnia, soal lelaki yang juga punya perasaan. Sehingga butuh didengar bahkan dimanja. Tentu memanjakan lelaki bukan dengan: “.. Tak kintung.. kintak kintung.. mata genit.. mata genit..” Nggak gitu.

Cukup menyimak tutur suami dengan totalitas. Menghadirkan hati disorot pandang istri ke suami. Menghargai setiap pencapaian suami. Hingga mengenali ketidak cocokkan dengan suami untuk kemudian dikelola. Bukan di agitasi untuk percekcokan. Gak cocok, boleh. Cekcok, gak boleh.

Dan pada akhirnya, baik buruk perjalanan rumah tangga -seumpama tapak-tapak jalan: never flat- Bergelombang. Suami sebagai driver memang dituntut lebih sigap kapan nge-gas, kapan nge-rem dan kapan berhenti. Istri pandai-pandailah mendampingi. Agar driver nyaman. Agar nggak kemrungsung. Riskan kecelakaan. Kan, selamat-celaka bakal bareng-bareng yang merasakan.


relfeksiSecang Hangat

Komentar