Perempuan Tanah Jahanam; Film Review

Views:  77

Well, Perempuan Tanah Jahanam ini adalah film yang digadang-gadang bakal cetar dan lebih seram dari Pengabdi Setan. Apalagi film ini juga disutradarai oleh Joko Anwar dan telah dipersiapkan sejak tahun 2011.

Pasti awalnya kita akan berekspektasi besar dan yakin bahwa film ini benar-benar matang di semua aspek, tapi apakah ekspektasi kita akan terbayar? Nah, saya memang terbilang terlambat nonton PTJ ini, sementara review-review tentang film ini sudah bertebaran, ada yang mengakui ini memang bagus dan masterpiece-nya Joko Anwar, ada yang bilang B aja, dan tidak sedikit yang bilang bagus, tapi endingnya mengecewakan.

Okay, akhirnya saya memutuskan untuk menurunkan ekspektasi dan tetap nonton agar nggak ketinggalan diskusi seru, apalagi memang tidak bisa dipungkiri, PTJ merupakan salah satu film Indonesia yang saya nanti sejak lama.

Masih menggandeng aktris kesayangannya, Mas Joko sukses mengarahkan Tara Basro dan Marissa Anita menjadi lebih matang dalam bermain peran.

Maya (Tara) dan Dini (Marissa) adalah dua gadis single yang harus berjuang dalam kerasnya kehidupan. Bagi yang sudah menonton, pasti akan sangat terkesan dengan adegan pembuka yang super duper menegangkan.

Dari sini, saya mulai optimis kayaknya film ini memang bakal seru dan bagus lah. But who knows? Masih saya tungguin adegan lainnya nih.

Kehidupan Maya dan Dini memang keras. Bekerja tapi nggak betah, buka usaha tapi juga nggak semudah membalikkan telapak tangan, membuat mereka cukup pusing dengan kondisi ekonomi yang sedang dialami. “Beruntungnya”, Maya menyadari bahwa ia memiliki warisan rumah yang cukup mewah di Desa Harjosari dan setelah mengumpulkan segenap tekad, Maya ditemani sahabat setianya si Dini, berangkat ke Desa tersebut.

Kengerian dan kejanggalan di Desa itu pun mulai mereka rasakan baik itu dari warga desanya maupun aura dari desa itu sendiri.

Yeah, misi mereka hanya satu, mendapatkan warisan dan setelah itu hidup enak. Tapi semuanya malah membawa mereka ke dalam masalah dan ancaman besar. Belum lagi melihat mereka harus menempati rumah tua dan sangat berdebu, air yang terlihat tidak higienis. Nggak kebayang deh gimana gatel-gatelnya.

Fun Fact-nya, rumah tua ini memang dibiarkan suram dan digunakan syuting dalam kondisi asli yang kemudian baru direnovasi selama 3 hari untuk adegan flashback.

Pemilihan Desa di daerah Banyuwangi juga merupakan upaya tepat untuk membangkitkan aura horror yang maksimal. Jujur saja saat menonton PTJ ini langsung teringat KKN di Desa Penari.

Mereka juga harus berurusan dengan Ki Saptadi (Ario Bayu) seorang Dalang tenar di desa tersebut dan Sang Ibu, Nyi Misni (Christine Hakim). Mendengar kata Dalang sudah pasti film ini akan menyajikan pertunjukan wayang, musik gamelan, kidung dari para sinden dan nuansa budaya jawa yang kental.

Bagi saya yang tinggal di Jogja, jujur saja menonton pertunjukan wayang baru beberapa kali saja, dan ketika saya menyaksikan pertunjukan wayang di bioskop dengan sound yang cukup menggelegar (walau bukan Dolby Atmos) hal ini sangat memanjakan mata dan telinga, cuman kurang nendang nie, harusnya ada sedikit adegan yang seolah sedang menjadi dalang sesungguhnya, ga hanya diam saja, buatlah seolah bercerita sepatah atau dua patah kata, kisah perwayangan. Tapi, yah, saya tau itu tidak mudah dan dengan visualisasi yang disajikan sudah cukup terbilang memuaskan.

Acting yang juga saya akui tidak kalah keren adalah Christine Hakim sebagai Nyi Misni yang sanggup memancarkan aura seram dan bengis. Siapa sih yang tidak setuju kalau akting beliau sudah tidak diragukan lagi? Tapi jujur, entah kenapa saya tidak terkesan dengan actingnya. Seolah terlihat agak “memaksakan”.

Entah deh, atau karena ending nya yang mengecewakan dan malah membuat ilfil dengan sosok Nyi Misni dan acting beliau? Sungguh, pada akhirnya saya juga harus merasa kecewa dan ingin marah saat melihat endingnya seperti itu? Suasana epik dan mencengangkan harus runtuh dengan penyelesaian konflik yang konyol. Inikah hasil dari pemikiran bertahun-tahun? Seharusnya, Mas Joko bisa membuat akhir yang lebih nampol.

Mengenai Asmara Abigail, sukses membuat frasa “Kerasa Ga” menjadi booming. Actingnya menjadi gadis lugu juga sukses, hanya saja logat jawanya masih kurang medhok, memang sulit sih kalau bukan Jawa Asli.

Terlepas dari kekurangan yang ada dalam PTJ, film ini termasuk highly recommended dan menjadi patokan bahwa film horror Indonesia memang semakin berkualitas. Bahkan hampir semua pemainnya baik itu yang utama maupun yang figuran, sama-sama memberikan penampilan terbaiknya.

Pengambilan tema budaya jawa yang memang sarat akan klenik dan dunia mistis juga keputusan cerdas. Bagaimana film ini berhasil menjadi sangat eksotis dan memorable. Sekali lagi saya tegaskan bahwa film ini tidak untuk anak-anak. Selain karena ada beberapa adegan sadis dan sarat akan sajian gore, banyak juga percakapan vulgar yang cablak abis.

So, mumpung masih tayang di Bioskop, sempatkanlah. Sebelum Ratu Ilmu Hitam menyerang!

RATING : 8/10


HorrorMovie Shot

Komentar