Doctor Sleep; A Review

Views:  384

Doctor Sleep menceritakan tentang Danny Torrance (Ewan McGregor), putra dari Jack Torrance dan Wendy Torrance yang sudah beranjak dewasa. Sesuai tagline film ini bahwa “Fear Never Sleeps”, kisah ini menuturkan pengalaman Danny yang masih memiliki kenampuan “The Shining” hingga saat ini dan takdir pun memperkenalkannya dengan Abra (Kyliegh Curran), gadis belia yang juga memiliki kemampuan yang sama dengan Dan. Keduanya saling terhubung melalui komunikasi supranatural walaupun belum pernah ketemu.. Cara mereka “chat – chatan” pun terlihat sangat asyik dan menarik.. Hingga semua berubah ketika mereka menyadari bahwa ada sekte bernama “The True Knot” yang haus akan uap (aura) para The Shining untuk bertahan hidup dan awet muda.. Hal inilah yang memaksa mereka untuk saling bertemu dan berusaha bersama membasmi para anggota sekte tersebut..

via IMDb

Film Doctor Sleep ini adalah SEKUEL dari THE SHINING (1980) and everybody knew it.. Jadi, mohon tidak perlu banyak bertanya harus nonton yang The Shining dulu atau tidak.. Saya pribadi sangat MEWAJIBKAN hal itu (toh The Shining merupakan salah satu film horror terbaik) meskipun banyak yang bilang ga masalah kalau langsung nonton Doctor Sleep tanpa berbekal The Shining.. Tapi, akan banyak sensasi nostalgia yang ga akan kalian rasakan.. Emang paham ama adegan di atas.? Emang bakal paham betapa ngerinya suasana di Hotel Overlook.? Lalu saat Wendy (Alex Essoe) dan Danny (Roger Bale Floyd) bercakap – cakap, bagi yang sudah nonton The Shining pasti mengakui kehebatan mereka dalam menghadirkan kembali karakter Wendy dan Danny (yeah, walo sejatinya pemeran terdahulu irreplaceable).. Ibarat nonton LFS 2 tanpa menyaksikan LSF pertama terlebih dahulu memang masih bisa ngikutin, tapi situ ga HISTERIS kan pas Ending.? Hanya yang sudah nonton LSF 1 yang paham betul sensasinya.. Uwuwuwu…

Abra and Rosie The Hat (Rebecca Fergusson) adalah duo strong woman yang sukses menyita perhatianku.. Abra yang masih belia dan Rosie sebagai villain cantik and kharismatik.. Karakter Rosie The Hat ini mengingatkan pada Jenny yang patah hati pada Barnum (The Greatest Showman) Haha.. Ga dapetin si Barnum, topinya juga gapapa.. Okay, kembali fokus ke Doctor Sleep, sebenarnya ide ceritanya menarik dan greget.. Tapi, sekali lagi sensasi bosan yang kemarin sempat saya rasakan saat nonton IT CHAPTER 2 kembali terulang.. Film ini nampak prima seperti film sendiri dengan kisah baru, namun DIPAKSA berkaitan dengan The Shining.. Bukan berarti film ini jelek ya, dari segi sinematografi, Doctor Sleep ini sangat ciamik, apalagi ditambah tone yang sedap di mata, scoring yang menggelegar dan membuat suasana makin tegang.. Namun, rasa bosan itu hadir, and ga bisa bohong.. Durasi terlalu panjang dan sosok Danny yang malah terkesan agak klemar – klemer membuatnya malah kalah dengan karakter Abra dan Rosie..

Mata bener – bener melek ketika kita dibawa kembali ke suasana Hotel Overlook.. Karpet yang khas, room no. 237, redrum, banjir darah, bar, ruang tengah tempat Jack mengetik, dan para penghuni astral yang “ngangenin”.. Jarak hampir 40 tahun dari film pendahulunya memang menjadikan Doctor Sleep sukses membuat penasaran.. Saya memang tidak berekspektasi apa-apa karena sudah terbiasa takud kecewa.. Haha.. Tapi, tanpa disadari saya berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaan terbesar dari The Shining, cuman kok ga kudapatkan.. Film ini sekali lagi, seolah MAKSA terhubung dengan The Shining, padahal bisa aja kan.. Sosok Danny ga usah anaknya Jack and Wendy Torrance, dan ga perlu bawa nama Hotel Overlook.? Pada akhirnya Doctor Sleep ini bagus, tapi jika dibandingkan dengan The Shining, masih kalah jauh dan hanya sebatas entertaining and nostalgia saja..

Haha.. Udahan yaa bahas filmnya, sekarang bahas sensornya.. Haduh, bikin ngakak donk.. Berasa nonton film di TV Nasional.. Blur gede BGT yang menyelimuti tubuh wanita, salah satu karakter yang emang lagi tanpa busana.. Padahal kalau diamati, kayaknya itu sudah disetting se-etis mungkin and saya rasa posisinya aman jika tanpa sensor.. Adegan tersebut memang ga mungkin dipotong juga, tapi blurnya annoying BGT.. Sampai aku berusaha mengingat, sebelum ini pernah ga sih, lembaga sensor kita ngasih blur segede itu di bioskop? Kok seingatku baru ngalamin Doctor Sleep ini.?

via IMDb

Rating : 3.5/5


Movie Shot

Komentar